Tantangan Besar Manusia Pasca Wabah Covid-19

Muhammad agung Laksono

Hingga saat ini tercatat ada lebih dari 1,2 Juta manusia diseluruh dunia positif Corona Virus Disease (Covid-19), dengan angka kematian mencapai 60 ribu, pasca kuranglebih 3 Bulan kasus pertama atau pasien 01 positif terjangkit Covid-19 di Wuhan, China. Namun dikutip dari Tempo, Pada 7 April 2020 tercatat untuk pertama kalinya angka kematian manusia yang positif Covid-19 berada diangka 0 kematian di Wuhan. Tentu, hal ini meningkatkan rasa optimis manusia dalam menangani Covid-19, walaupun tercatat jutaan orang sudah dinyatakan positif berdasarkan data lembaga kesehatan dunia atau WHO. Sejarahwan sekaligus Ilmuwan, prof Yuval Noah Harari menulis dalam karyanya homo Deus, dimana dalam bukunya Harari menerangkan agenda terbesar manusia tak lepas dari kelaparan, wabah penyakit, dan perang.

Paradoks Perang Dan Kelaparan

Pada Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT) Ketahanan Pangan di Roma, Italia, Bulan November 2009, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), Ban Ki-moon menuturkan setiap lima detik satu orang meninggal karena kelaparan, sementara International Diabetes Federation (IDF) mencatat saat ini setiap 8 detik ada orang yang meninggal akibat diabetes di dunia, jumlah diabetes di dunia naik menjadi 425 juta jiwa pada tahun 2017.

Lalu, dilansir dari laman resmi WHO, setidaknya pada tahun 2018, satu dari sembilan orang di dunia menderita kelaparan, dengan angka 821,6 juta orang. Sementara, anak di bawah 5 tahun yang terkena stunting adalah 21,9 persen atau 148,9 juta, dan anak di bawah 5 tahun yang terkena wasting adalah 49,5 juta atau 7,3 persen. Namun, anak di bawah 5 tahun yang obesitas adalah 40 juta orang, atau 5,9 persen, anak-anak dan remaja usia sekolah yang obesitas mencapai 338 juta.

Dan orang dewasa yang obesitas adalah 13 persen, atau satu dari delapan orang di dunia mengalami kelebihan berat badan. Disisi lain, Perang Dunia Ke-2 menyebabkan kematian manusia sebanyak 62,5 Juta diseluruh dunia, meski hanya berlangsung selama 6 Tahun. Namun disisi lain Perang tersebut membawa kemajuan pada bidang teknologi, baik positif ataupun negatif, seperti proyek manhattan yang telah menciptakan nuklir, yang meluluh-lantahkan Hiroshima, dan Nagasaki. Di 2020 ini, kita mendapatkan informasi kematian jenderal tinggi Garda Nasional Iran Qasem Soleimani, karena penyerangan rudal Amerika Serikat di Baghdad. Pasca peristiwa yang menegangkan kita diawal Tahun 2020 ini, Iran membalas dengan menyerang pangkalan Amerika di Timur Tengah, meski tak menimbulkan korban bagi Amerika.

Di Amerika wacana perang dengan Iran tidak bersambut, bahkan dikecam. Dewan Perwakilan AS dengan resmi menggelar jajak pendapat demi mencegah Presiden mereka, serta protes publik AS terhadap pembunuhan Soleimani turut membuat Trump berpikir kembali untuk terlibat konfrontasi militer lebih jauh lagi.

Wabah, Dan  Ilmu Pengetahuan

Secara historis, tercatat ada jutaan orang meninggal karena wabah, seperti wabah Justinian (Pes),yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Dimana organisme yang disebarkan melalui tikus, infeksi fatalnya kemudian menyebabkan wabah di dunia.  Asal mula wabah ini muncul di Konstatinopel, ibu kota Kekaisaran Romawi Timur, pada 541 CE, dan kemudian menyebar seperti api melintasi Eropa, Asia, Afrika Utara dan Arab, sehingga kuranglebih wabah ini menewaskan 30-50 juta orang atau diperkirakan hampir setengah dari populasi dunia saat itu. Seorang professor bernama Thomas Mockaitis sejarah dari DePaul University mengatakan ketika itu, orang-orang hanya tau menghindari mereka yang sakit sebagai cara melawannya.

Sementara, disekitar Tahun 1437 di Eropa wabah Maut Hitam atau Black Death muncul dan menewaskan 200 juta orang, dalam waktu 4 Tahun. Menariknya bagi Thomas Mockaitis wabah ini berhenti karena adanya jarak, dan istilah karantina dimulai dari sini, dimana para pejabat di kota pelabuhan Ragusa yang dikuasai Venesia, memutuskan untuk menahan para pelaut yang baru tiba di kapal mereka selama 30 hari. Seiring berjalannya waktu, orang-orang Venesia menambah waktu ‘isolasi paksa’ menjadi 40 hari, atau quarantine. Sementara untuk vaksin, tercatat pertamakalinya vaksin digunakan untuk melawan wabah adalah pada wabah cacar, dimana selama beberapa abad menjadi ancaman besar yang menewaskan tiga dari sepuluh orang yang terinfeksi dan meninggalkan bekas luka, di Eropa, Asia dan Timur Tengah. Di Tahun 1770, dokter asal Inggris, Edward Jenner mengembangkan vaksin dari cacar sapi, yang kemudian hal tersebut membantu tubuh meningkatkan imun untuk melawan cacar.

Dari beberapa rangkaian sejarah ini, manusia memang begitu terancam dengan wabah sejak ratusan atau mungkin ribuan tahun lalu, jauh sebelum globalisasi. Namun, rasa takut akan ancaman tersebut dikolaborasikan dengan ilmu pengetahuan. Sehingga, perlahan langkah antisipasi manusia mulai meningkat dari ketidaktahuan menghadapi penyakit pes, beranjak ke kebijakan karantina oleh pejabat di kota pelabuhan Ragusa, dan ada dokter Edward Jenner yang menemukan vaksin dalam mengatasi wabah sekitar 600 Tahun lalu.

Wabah penyakit yang menjadi ancaman bagi manusia, selama satu abad terakhir terus dipelajari. Dimana para ilmuwan, dokter, dan perawat di seluruh dunia mengumpulkan informasi, dan bersama-sama berhasil memahami mekanisme di balik epidemi dan cara melawannya. Bahkan untuk mengidentifikasi virus corona baru, dan mengurutkan genomnya, ilmuwan kini hanya butuh waktu 2 minggu.

Tantangan Kedepan

Ketika angka obesitas, lebih tinggi dari angka kelaparan. Ketika angka kematian Perang setiap tahunnya jauh lebih rendah dari angka jantung coroner, dimana 2016 naik hingga lebih dari 9 juta kematian, dengan angka 2 Juta kematian dari Tahun 2000, yang tercatat kurang lebih 7 juta kematian. Sementara, dalam mengatasi wabah penyakit manusia belajar dari ketidaktahuannya, mulai dari karantina hingga pengembangan vaksin, yang meningkatkan daya survive manusia dengan meningkatkan kekebalan tubuh manusia dari virus.

Sebagai jenis Homo (Manusia) pernahkah kita mempertanyakan apakah ada spesies lain sejenis diluar Homo Sapiens, tentu kita pernah mempelajarinya di pelajaran sejarah sekolah dasar, yakni tentang adanya penemuan kerangka tulang seperti Homo Soloensis di Sungai Bengawan. Lalu mengapa harus sapiens? Dan mengapa kita bisa lebih unggul dari Simpanse, Singa, atau Gajah. Ternyata bukan persoalan Sapiens memilki kelompok, cakar lebih tajam, atau lebih kuat secara fisik, hal ini disebabkan Sapiens mencapai Revolusi Kognitif.

Bagi Yuah Noval Harari, manusia telah melalui 3 fase Revolusi (Revolusi Kognitif, Pertanian, dan Sains). Dimulai dari Revolusi Kognitif dimana manusia mampu membentuk suatu komunikasi yang membangun ikatan kebersamaan, dengan jumlah yang tak terbatas melalui mitos-mitos, yang kemudian menjadi imagine komunal tentang masa depan. Dimana dalam mitos tersebut, manusia tak perlu saling bertemu, ataupun saling kenal. Lalu fase berikutnya, manusia mulai mengenal berkebun, dan berternak.

Pada fase revolusi pertanian inilah manusia mengenal tinggal menetap, lalu kemudian berkembang menjadi Desa, Kota, Bahkan Kerajaan. Namun, dari Sapiens yang tidak tinggal menetap, yang bisa mengkonsumsi apapun, dan tidak terikat. Pada fase ini, manusia mulai mengenal Kepemilikan Pribadi. Dari Sapiens, yang akan pergi dari gua karena ada kelompok lain yang lebih kuat, kini menjadi petani yang memilih bertahan daripada menyerahkan ladang, rumah, dan hewan ternaknya. Lalu pada fase ini sapiens meninggalkan budaya patriarki, hierarkis keluarga, atau dominasi berdasarkan kelas.

Saat jumlah Sapiens semakin banyak, sementara Desa sudah berkembang menjadi Kerajaan. Saat itulah sapiens butuh perniagaan yang lebih luas, dari wilayahnya, maka diperlukan alat yang bisa diterima semua manusia. Ditemukanlah uang. Disisi lain, atas ketidaktahuannya manusia terus belajar, dalam menemukan ketidaktahuannya manusia mengenal fase revolusi sains. Revolusi Sains,meski banyak berkaitan dengan tradisi kuno seperti Yunani, Tiongkok, India, dan dunia Arab. Namun, revolusi ini bertumpu di Eropa.

Dengan bertemunya sains, dan kapitalisme yang disokong dalil revolusioner dari The Wealth Nations karangan Adam Smith yang mengubah pandangan terhadap uang/laba dan kemakmuran. Mesin Uap adalah penemuan penting dalam tahap awal revolusi sains, sementara, ilmuwan dan produsen, terus berlomba menciptakan sarana, dan mekanisasi meningkatkan hasil industry atau Revolusi Industri. Revolusi Industri mendorong tingginya pemanfaatan, eksplorasi, dan alih fungsi energi. Tenaga manusia digantikan mesin yang lebih efisien, sehingga banyak barang yang butuh pembeli. Disinilah muncul term konsumerisme, dimana produsen yang tak mau rugi berusaha menjual produk dengan beragam trik. Akibatnya, orang membeli barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan. Selain itu, dengan terbangun suatu rantai produsen atau supply chain yang melebihi batas teritori Negara, melalui Multinational Corporate (MNC) yang mengintegrasikan dari downstream hingga upstream, bahkan perusahaan raksasa dunia telah berubah wujud dari produsen menjadi pembeli atau kordinator global. Hal ini dapat kita curigai sebagai upaya meminimalisir biaya produksi, dengan memanfaatkan negara dunia ke-tiga sebagai tempat produsen bahan baku, perakitan, sekaligus wilayah konsumen suatu produk dari MNC.

Dengan semakin banyaknya jumlah sapiens, serta meningkatnya hasil produksi mesin. Apakah manusia telah menghasilkan banyak hal, tetapi apakah tingkat penderitaan turun? Sapiens cenderung menjadi sesuatu hal yang tak pernah puas, dan tak tahu apa tujuan sebenarnya. Setelah lepas dari kelaparan, wabah penyakit, dan perang, sebagai agenda terbesar manusia, kita tak bisa membayangkan agenda besar apa selanjutnya? Saat ditengah krisis iklim, dan kemajuan teknologi yang ramah lingkungan belum diterapkan di industri-industri negara berkembang sebagai Single Market and Production Base.

Muhammad agung Laksono
Penulis Adalah Muhammad Agung Laksono, pengurus GMNI Serang dan wartawan di media online lokal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *