Butuh Empati, Ditengah Ancaman Social Distancing Hingga 2022

Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) perlu kerjasama antara masyarakat, berbagai lini profesi, dan antar negara. Hal ini mengingat, pandemi yang telah menjangkit 2 Juta lebih manusia di seluruh dunia ini belum ditemukan vaksin, sebagai garansi kekebalan manusia saat melakukan interaksi dalam jarak yang cukup dekat, atau berkumpul. Sementara, di Indonesia pasien terjangkit terus bertambah, selain itu dokter spesialis paru begitu minim jumlahnya bila kita melihat data dari berita daring. Mahalnya biaya pendidikan menjadi tenaga kesehatan, diduga bisa menjadi alasan yang tepat. Sementara, di Negara berkembang lain kita bisa belajar dari Kuba, sebagai Negara yang kita anggap miskin karena dengan Produk Domestik Bruto (PDB) hanya sekitar 87 juta USD, sementara PDB Indonesia mencapai 4.174,9 USD Pada 2019 berdasarkan data BPS.

Sementara, seruan Physical Distancing yang diserukan Pemerintah, belum disokong oleh keterbukaan informasi dalam menjelaskan pandemi yang memiliki nama SARS-CoV-2 ini, sebagaimana yang dikatakan para ilmuwan di Center for Mathematical Modelling of Infectious Diseases yang memperkirakan hanya 2 persen kasus Covid-19 di Indonesia yang berhasil dikonfirmasi. Artinya, jumlah kasus yang sebenarnya bisa  jauh lebih besar, menurut ilmuwan yang berada di London, Inggris tersebut. Selain itu, ada kesalahan orientasi pada layanan kesehatan, yang bersumber dari komersialisasi pendidikan di Indonesia. Selain itu, perbaikan ekosistem lingkungan hidup harusnya menjadi komitmen dunia pasca pandemi pertama ini, untuk membangun empati, dan solidaritas rasa kemanusian yang tak memandang perbedaan apapun, hanya melihat kita sebagai sesama manusia.

HANTU COVID-19 MEMBATASI INTERAKSI SOSIAL?

Dilansir dari laman KawalCorona(dot)com Pada 17 April 2020, tercatat ada sekitar 2,1 juta orang di dunia positif Covid-19. Dengan korban meninggal sebanyak 145 ribu, selain itu vaksin dari virus ini sejauh ini belum ditemukan sehingga kekebalan tubuh manusia belum tergaransikan dalam menghadapi pandemi yang pertaamakali muncul di Wuhan, Tiongkok ini. Selain itu, Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan regulasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), sebagai langkah pencegahan penyebaran Covid-19. Namun jaga jarak diperkirakan akan mengjantui kita hingga tahun 2022 selama belum adanya vaksin, karantina wilayah, dan adanya pelacakan kasus secara efektif

Berdasarkan Penelitian Ilmuwan Universitas Harvard yang mengasumsikan, jika tidak ada intervensi spesifik yang dilakukan guna mencegah penularan, hal ini berdasarkan model lintasan yang mereka buat. Para ilmuwan juga menambahkan, jika imunitas Covid-19 telah terbentuk secara permanen, penyakit ini bisa menghilang dalam waktu lima tahun atau lebih. Dan, Penulis utama yakni Stephen Kissler memperkirakan langkah-langkah jarak sosial sebanyak satu kali kemungkinan tidak cukup untuk mempertahankan isu SARS-CoV-2 dalam batas kapasitas perawatan kritis di Amerika Serikat, Dengan memakai data perkiraan musim, imunitas, dan lintas imunitas betacoronavirus 0C43 serta HKU1, berdasarkan deret waktu penyebaran di Amerika Serikat hingga 2025.

Sementara, bagaiamana dengan Indonesia sebagai Negara beriklim tropis yang hanya memiliki 2 musim? Tentu interaksi sosial antara masyarakat, masih diperlukan pembatasan meski periode pandemi pertama diperlukan selama belum ditemukan pemicu kekebalan massal (Herd Imunnity). Maka tugas bersama kedepan adalah memanfaatkan teknologi dalam interaksi sosial, dan bekerja. Dengan harapan, masyarakat bisa kembali bekerja untuk diri, atau keluarganya, dan Pemerintah bisa mengevaluasi orientasi sistem kesehatan nasional kedepan.

BANGUN SISTEM KESEHATAN DAN PENDIDIKAN YANG MERAKYAT

Sebagaimana kita ketahui, bahwa biaya yang cukup mahal adalah rahasia umum untuk menjadi dokter di Indonesia. Hal ini, berdasarkan catatan organisasi kesehatan dunia atau WHO, dimana Pada tahun 2017, WHO mengungkapkan bahwa di Indonesia hanya memiliki empat dokter untuk 10.000 orang, bandingkan dengan Italia yang memiliki jumlah dokter 10 kali lebih banyak berdasarkan data per kapita. Dan berdasarkan data Kemenkes RI, hanya tersedia 12 tempat tidur bagi 10.000 orang. Atas hal ini, kita perlu belajar pada sesama Negara berkembang, yakni Kuba.

Di Kuba, sebagai Negara yang masih di embargo memiliki layanan kesehatannya gratis. Dimana anggaran kesehatannya tidak pernah di bawah 10 persen dari PDB-nya. Selain itu, Kuba punya konsep yang disebut Kuba punya konsep yang disebut medicina general integral (MGI), dimana pengobatan komprehensif dan terintegrasi). Jadi, di setiap lingkungan penduduk Kuba, semacam RT atau RW di Indonesia, ada yang disebut “consultorio”, consultorio terdiri dari dokter dan beberapa staff, yang langsung melayani penduduk di sekitarnya. Selain itu, untuk mengefektifkan daya jangkaunya, consultorio didukung oleh policlínicos, yang memastikan layanan kesehatan 24 jam. Policlínicos melibatkan tenaga kesehatan, spesialis dan masyarakat setempat yang terlatih. Di Kuba pun ada tenaga medis yang melimpah.

Dimana 4 dekade, Kuba berhasil menghasilkan 109.000 dokter, perbandingan saat ini: 1 dokter melayani 148 penduduk. Sementara untuk sistem pendidikan, Bank Dunia mengakui sistim pendidikan Kuba sebagai yang terbaik di Amerika latin, dan Karibia. Melalui catatan Education Index,dan Human Development Index (HDI), Kuba masuk 50 besar. Seluruh institusi pendidikan di Kuba, langsung dikelola oleh Negara, bahkan ketersediaan ruang kelas hanya di isi paling banyak 25 murid. sedangkan untuk kelas di sekolah menengah, rata-rata hanya 15-20 murid.

Yang membuat penulis mendalami pendidikan di Kuba adalah, tak pernah ada pungli untuk urusan urusan seragam hingga buku, bahkan hal tersebut diberi secara gratis bagi semua anak-anak sekolah disana. Bahkan dalam catatan Unesco, Education For All Development Index (EDI) Kuba mencapai 0,983, merupakan yang tertinggi di Amerika latin dan Karibia. Serta untuk makan bergizi selama sekolah di Kuba, setiap murid juga akan mendapat sarapan, dan makan siang tanpa dipungut biaya.

Kolaborasi Sosial, Dan Batalkan Kerjasama Antar Negara Yang Merusak Ekologi

Pasca pandemi, seharusnya kita belajar dalam menjaga keseimbangan ekologi baik dalam tataran masyarakat, atau Negara, sebagaimana Wacana upaya bersama untuk menjaga agar suhu bumi tidak meningkat hingga 2 derajat Celcius, gagal menjadi kesepakatan dalam KTT Perubahan Iklim. Pada penerapannya masih ada beberpa investasi dari satu Negara ke Negara lain, yang merusak lingkungan.

Keseimbangan ekologi menjadi komoditas yang bisa dipertukarkan untuk pemuasan kepentingan yang bersifat materialistis, hal ini disokong konsumerisme membutuhkan pemuasan kebutuhan melalui gambaran gaya hidup yang pada akhirnya menghasilkan kehancuran kesimbangan ekosistem, seperti; lautan sampah yang sulit untuk diurai, sungai yang tercemar sisa tambang, atau udara yang tercemar batu bara untuk menggerakan turbin Pembangkit Tenaga Listrik Uap (PLTU).

Maka, bagi penulis struktur sosial yang begitu pragmatis dan matrealistik, memberikan kemudahan bagi korporasi, dan pembuat kebijakan dalam mengeksploitasi lingkungan. Contoh investasi antara Negara yang patut diduga tidak komitmen pada KTT Iklim adalah  lembaga keuangan publik asal Korea Selatan, Korean Exim, yang pada November 2019 lalu akan menyediakan pendanaan (closing financial) untuk pembangunan proyek PLTU Jawa 9-10, Suralaya, Provinsi Banten, dengan nilai investasi US$3,5 miliar pada awal Januari 2020.

Sementara, Didit Haryo dari Greenpeace Indonesia mengungkapkan “Presiden Jokowi harus sadar bahwa proyek emisi tinggi seperti PLTU kini tidak lagi diminati lembaga pendana karena dampak pada lingkungan dan manusianya. Baginya PLTU Jawa 9 dan 10 harus dibatalkan untuk menyelamatkan masyarakat karena saat ini paparan polusi di Banten dan Jakarta sangat berbahaya. Kemudian, berdasarkan pemodelan yang dilakukan oleh Greenpeace, jika rencana ekspansi ini tetap dibangun dan beroperasi, diprediksi akan mengakibatkan 4.700 kematian dini selama 30 tahun masa operasi PLTU.”

Pada akhirnya, bagi penulis setiap peristiwa besar akan menghasilkan sesuatu yang besar seperti peristiwa Big Bang atau ledakan  besar, sehingga terjadi proses evolusi bintang hingga terbentuk matahari beserta tata planet termasuk bumi, dan mahluk hidup didalamnya. Atau mencatat orang munafik yang serakah dalam catatan hitam sejarah, seperti orang Yunani yang tidak bisa menaklukan Kota Troya, namun dengan kesaksian palsu wanita bernama Sinom, orang Troya membawa masuk patung berbentuk Kuda kedalam kotanya, dan saat malam hari ribuan tentara Yunani yang sembunyi didalam patung Kuda berhasil menyerang, dan menguasai Kota Troya. Bagaimanapun, ditengah pandemi kita mulai belajar menggunakan alat yang ada di era digital, dimana sosialisasi dari Kementerian cukup melalui Konferensi Video. Yang lebih menghemat anggaran, karena tak perlu ada biaya akomodasi penginapan, perjalanan, dam lain sebagainya.

Ditulis Oleh Muhamad Agung Laksono, wartawan media lokal di Banten, dan Pengurus GMNI SERANG.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *