Focus Group Discusion: ‘model pengembangan lingkungan berkelanjutan’

0
86

Suara’rakyat

(suararakjat.com)– Jurusan Agribisnis program studi agribisnis dan program studi penyuluhan fakultas pertanian(Faperta) Unpatti menggelar focus group discussion (FGD) model pengembangan lingkungan berkelanjutan di pulau Maluku yang dipusatkan diruang baca Faperta Unpatti, Rabu (27/03/2019).

FGD ini terlaksana atas kerjasama dengan jurusan agribisnis produk agribisnis dan prodi penyuluhan Faperta Unpatti dengan yayasan Mollucas Ambon yang menghadirkan nara sumber diantaranya; RE Ririhena (Dosen Agroekoteknilogi Faperta), E.Ch Papilaya (Dosen Agribisnis Faperta Unpatti), Abraham Tulalessy (Mantan kepala pusat studi lingkungan Unpatti) dan Linda Holle (Staf Komnas HAM perwakilan Maluku).

Dekan Faperta, JM Matinahoru dalam kata sambutannya mengatakan ada tiga hal utama yang menjadi problematika lingkungan, yakni, pencemaran karena sampah maupun limbah B3, habitat organisme hidup flora dan fauna yang terancam punah populasinya terutama spesies endemik serta masalah hukum dan peraturan hukum.

“Dari ketiga persoalan ini, maka hal yang harus dilakukan yakni sinkronisasi aturan agar aturannya tidak saling bertabrakan antara satu sektor dengan sektor yang lainnya, sehingga dalam FGD ini diharapkan dapat memberi masukan sehingga ada model yang dapat di tetapkan,” ungkap Matinahoru.

Ia pun menghimbau agar usai FGD ini dapat membentuk komisi pemantau kerusakan lingkungan hidup (KPK-LH) yang nantinya mempunyai kewenangan sama dengan KPK.

“Kalau cuma begini-begini negara bisa bermain tidak ada yang bisa atasi tapi jika kita bisa bentuk sebuah lembaga seperti KPK(independen), maka negara juga bisa kita libas habis(bila tidak sesuai),” cetusnya.

Sementara itu, koordinator pelaksana FGD, Jeter Donald Sowalette menjelaskan, tujuan dilaksanakan FGD ini agar semua orang baik akademisi, mahasiswa dan LSM dapat terlibat dalam kegiatan ini dan memberikan masukan terhadap bagaimana pengelolaan lingkungan berkelanjutan di maluku.

“Berbicara tentang lingkungan bukan saja lingkungan fisik tetapi juga lingkungan sosial dan lingkungan budaya, sehingga hal ini bisa dibicarakan dengan baik agar mendapatkan solusi supaya bagaimana pengelolaan lingkungan itu berkelanjutan dan ekonomi serta kesejahteraan masyarakat diutamakan sebab jika masyarakat itu tidak sejahtera maka itu akan mudah menimbulkan konflik ditengah masyarakat,” tandasnya.(BLS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here